Manusia Yang Tergolong Sebagai Tenaga Kerja Adalah Berumur/Produktif?

Manusia Yang Tergolong Sebagai Tenaga Kerja Adalah Berumur/Produktif
Tenaga Kerja – Jika Anda sudah mengetahui tentang angkatan kerja, bagaimana dengan tenaga kerja? Apa yang dimaksud dengan tenaga kerja? Menurut UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

Segala yang berkaitan dengan tenaga kerja di Indonesia diatur dalam Undang-undang Ketenagakerjaan yang mengatur segala hal berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. Semua ini agar hak dan kewajiban antara tenaga kerja serta perusahaan terpenuhi. Beberapa hak tenaga kerja yang harus Anda tahu yaitu hak untuk memperoleh upah, memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama tanpa diskriminasi, mendapatkan perlindungan kesehatan dan keselamatan, serta hak untuk mendapatkan cuti.

Secara sederhana, penduduk di Indonesia dibagi menjadi tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Di Indonesia sendiri umur usia produktif atau usia kerja yang termasuk tenaga kerja adalah 15-64 tahun, sementara di bawah atau lebih dari usia tersebut tergolong bukan tenaga kerja.

Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang mendapatkan kemampuan/ keahliannya pada bidang tertentu melalui pendidikan formal, contohnya dokter, pengacara, dan lain-lain. Tenaga kerja terlatih adalah tenaga kerja yang memiliki suatu keahlian tertentu dalam suatu bidang. Keahliannya ini didapatkan dari pengalaman kerja yang dilakukan dan tidak memerlukan pendidikan seperti tenaga kerja terdidik. Contoh yaitu juru masak, supir, dan lain-lain. Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja yang mengandalkan tenaga saja. Contohnya kasir, buruh pabrik, dan lain-lain.

Berapa umur tenaga kerja produktif?

3. Produktivitas, contoh: – – 0-14 tahun (belum produktif) – 15-64 tahun ( usia produktif diukur dari rentang usia ini) – Lebih dari 64 tahun (tidak produktif) Penduduk usia belum produktif dan tidak produktif ini dikategorikan sebagai penduduk usia ketergantungan.

  • Omposisi penduduk menurut usia sangatlah penting agar pemerintah bisa menentukan kebijakan terkait penyediaan pendidikan, pembangunan, penyediaan pangan, dan yang lain.
  • Menurut buku Penunjang Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan untuk SMP/MTs kelas 7 karangan Mapata, salah satu contoh penggunaan komposisi penduduk berdasarkan rentang usia ini adalah dalam program Wajib Belajar 9 Tahun.

Dengan mengamati dan melakukan analisis penduduk melalui kategori usia, maka dapat diketahui berapa jumlah penduduk yang harus sekolah, berapa tenaga pendidik dan kependidikan yang dibutuhkan, dan sebagainya. Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa usia produktif diukur dari rentang usia 15-64 tahun dan nonproduktif digolongkan berdasarkan rentang usia tertentu atau lebih dari 64 tahun.

Usia berapakah bukan tenaga kerja?

Konsep/ Penjelasan Teknis

  1. Penduduk usia kerja adalah penduduk berumur 15 tahun dan lebih.
  2. Penduduk yang termasuk angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran.
  3. Penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang masih sekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya selain kegiatan pribadi.
  4. Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pola kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi.
  5. Punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja adalah keadaan dari seseorang yang mempunyai pekerjaan tetapi selama seminggu yang lalu sementara tidak bekerja karena berbagai sebab, seperti: sakit, cuti, menunggu panenan, mogok dan sebagainya.
  6. Contoh:

      1. Pekerja tetap, pegawai pemerintah/swasta yang sedang tidak bekerja karena cuti, sakit, mogok, mangkir, mesin/ peralatan perusahaan mengalami kerusakan, dan sebagainya.
      2. Petani yang mengusahakan tanah pertanian dan sedang tidak bekerja karena alasan sakit atau menunggu pekerjaan berikutnya (menunggu panen atau musim hujan untuk menggarap sawah).
      3. Pekerja profesional (mempunyai keahlian tertentu/khusus) yang sedang tidak bekerja karena sakit, menunggu pekerjaan berikutnya/pesanan dan sebagainya. Seperti dalang, tukang cukur, tukang pijat, dukun, penyanyi komersial dan sebagainya
  7. Penganggur terbuka, terdiri dari:
      1. Mereka yang tak punya pekerjaan dan mencari pekerjaan.
      2. Mereka yang tak punya pekerjaan dan mempersiapkan usaha.
      3. Mereka yang tak punya pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.
      4. Mereka yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum molai bekerja.

    (lihat pada “An ILO Manual on Concepts and Methods “)

    Mencari pekerjaan adalah kegiatan seseorang yang pada saat survei orang tersebut sedang mencari pekerjaan, seperti mereka:

        1. Yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan.
        2. Yang sudah pernah bekerja, karena sesuatu hal berhenti atau diberhentikan dan sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan.
        3. Yang bekerja atau mempunyai pekerjaan, tetapi karena sesuatu hal masih berusaha untuk mendapatkan pekerjaan lain.

    Usaha mencari pekerjaan ini tidak terbatas pada seminggu sebelum pencacahan, jadi mereka yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan dan yang permohonannya telah dikirim lebih dari satu minggu yang lalu tetap dianggap sebagai mencari pekerjaan asalkan seminggu yang lalu masih mengharapkan pekerjaan yang dicari. Mereka yang sedang bekerja dan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang lain tidak dapat disebut sebagai penganggur terbuka.

    Mempersiapkan suatu usaha adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam rangka mempersiapkan suatu usaha/pekerjaan yang “baru”, yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan/keuntungan atas resiko sendiri, baik dengan atau tanpa mempekerjakan buruh/pekerja dibayar maupun tidak dibayar. Mempersiapkan yang dimaksud adalah apabila “tindakannya nyata”, seperti: mengumpolkan modal atau perlengkapan/alat, mencari lokasi/tempat, mengurus surat ijin usaha dan sebagainya, telah/sedang dilakukan.

    Mempersiapkan usaha tidak termasuk yang baru merencanakan, berniat, dan baru mengikuti kursus/pelatihan dalam rangka membuka usaha.

    Mempersiapkan suatu usaha yang nantinya cenderung pada pekerjaan sebagai berusaha sendiri (own account worker) atau sebagai berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tak dibayar atau sebagai berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar. Penjelasan: Kegiatan mempersiapkan suatu usaha/pekerjaan tidak terbatas dalam jangka waktu seminggu yang lalu saja, tetapi bisa dilakukan beberapa waktu yang lalu asalkan seminggu yang lalu masih berusaha untuk mempersiapkan suatu kegiatan usaha.

  8. TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) adalah persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja.
  9. Pekerja Tidak Penuh adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu).
  10. Pekerja Tidak Penuh terdiri dari:

      1. Setengah Penganggur adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu), dan masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan (daholu disebut setengah pengangguran terpaksa).
      2. Pekerja Paruh Waktu adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu), tetapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain (daholu disebut setengah pengangguran sukarela).
  11. Sekolah adalah kegiatan seseorang untuk bersekolah di sekolah formal, molai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi selama seminggu yang lalu sebelum pencacahan. Tidak termasuk yang sedang libur sekolah,
  12. Mengurus rumah tangga adalah kegiatan seseorang yang mengurus rumah tangga tanpa mendapatkan upah, misalnya: ibu-ibu rumah tangga dan anaknya yang membantu mengurus rumah tangga. Sebaliknya pembantu rumah tangga yang mendapatkan upah walaupun pekerjaannya mengurus rumah tangga dianggap bekerja.
  13. Kegiatan lainnya adalah kegiatan seseorang selain disebut di atas, yakni mereka yang sudah pensiun, orang-orang yang cacat jasmani (buta, bisu dan sebagainya) yang tidak melakukan sesuatu pekerjaan seminggu yang lalu.
  14. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah tingkat pendidikan yang dicapai seseorang setelah mengikuti pelajaran pada kelas tertinggi suatu tingkatan sekolah dengan mendapatkan tanda tamat (ijazah).
  15. Jumlah jam kerja seluruh pekerjaan adalah lamanya waktu dalam jam yang digunakan untuk bekerja dari seluruh pekerjaan, tidak termasuk jam kerja istirahat resmi dan jam kerja yang digunakan untuk hal-hal di luar pekerjaan selama seminggu yang lalu.
  16. Bagi pedagang keliling, jumlah jam kerja dihitung molai berangkat dari rumah sampai tiba kembali di rumah dikurangi waktu yang tidak merupakan jam kerja, seperti mampir ke rumah famili/kawan dan sebagainya.

  17. Lapangan usaha adalah bidang kegiatan dari pekerjaan/usaha/perusahaan/kantor tempat seseorang bekerja. Lapangan pekerjaan pada publikasi ini didasarkan pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009.
  18. Jenis pekerjaan/jabatan adalah macam pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang atau ditugaskan kepada seseorang yang sedang bekerja atau yang sementara tidak bekerja. Jenis pekerjaan pada publikasi ini, didasarkan atas Klasifikasi Baku Jenis Pekerjaan Indonesia (KBJI) 2002 yang mengacu kepada ISCO 88.
  19. Upah/gaji bersih adalah imbalan yang diterima selama sebolan oleh buruh/karyawan baik berupa uang atau barang yang dibayarkan perusahaan/kantor/majikan. Imbalan dalam bentuk barang dinilai dengan harga setempat. Upah/ gaji bersih yang dimaksud tersebut adalah setelah dikurangi dengan potongan-potongan iuran wajib, pajak penghasilan dan sebagainya.
  20. Status pekerjaan adalah jenis kedudukan seseorang dalam melakukan pekerjaan di suatu unit usaha/kegiatan. Molai tahun 2001 status pekerjaan dibedakan menjadi 7 kategori yaitu:
    1. Berusaha sendiri, adalah bekerja atau berusaha dengan menanggung resiko secara ekonomis, yaitu dengan tidak kembalinya ongkos produksi yang telah dikeluarkan dalam rangka usahanya tersebut, serta tidak menggunakan pekerja dibayar maupun pekerja tak dibayar, termasuk yang sifat pekerjaannya memerlukan teknologi atau keahlian khusus.
    2. Berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tak dibayar, adalah bekerja atau berusaha atas resiko sendiri, dan menggunakan buruh/pekerja tak dibayar dan atau buruh/pekerja tidak tetap.
    3. Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar, adalah berusaha atas resiko sendiri dan mempekerjakan paling sedikit satu orang buruh/pekerja tetap yang dibayar.
    4. Buruh/Karyawan/Pegawai, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan secara tetap dengan menerima upah/gaji baik berupa uang maupun barang. Buruh yang tidak mempunyai majikan tetap, tidak digolongkan sebagai buruh/karyawan, tetapi sebagai pekerja bebas. Seseorang dianggap memiliki majikan tetap jika memiliki 1 (satu) majikan (orang/rumah tangga) yang sama dalam sebolan terakhir, khusus pada sektor bangunan batasannya tiga bolan. Apabila majikannya instansi/lembaga, boleh lebih dari satu.
    5. Pekerja bebas di pertanian, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap (lebih dari 1 majikan dalam sebolan terakhir) di usaha pertanian baik berupa usaha rumah tangga maupun bukan usaha rumah tangga atas dasar balas jasa dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang, dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan. Usaha pertanian meliputi: pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan dan perburuan, termasuk juga jasa pertanian.
    6. Majikan adalah orang atau pihak yang memberikan pekerjaan dengan pembayaran yang disepakati.
    7. Pekerja bebas di nonpertanian adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap (lebih dari 1 majikan dalam sebolan terakhir), di usaha non pertanian dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan.Usaha non pertanian meliputi: usaha di sektor pertambangan, industri, listrik, gas dan air, sektor konstruksi/ bangunan, sektor perdagangan, sektor angkutan, pergudangan dan komunikasi, sektor keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan, tanah dan jasa perusahaan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan.Huruf e dan f yang dikembangkan molai pada publikasi 2001, pada tahun 2000 dan sebelumnya dikategorikan pada huruf d dan a (huruf e termasuk dalam d dan huruf f termasuk dalam a).
    8. Pekerja keluarga/tak dibayar adalah seseorang yang bekerja membantu orang lain yang berusaha dengan tidak mendapat upah/gaji, baik berupa uang maupun barang.
You might be interested:  Mengapa Perlu Adanya Jaminan Kematian Dalam Jaminan Sosial Tenaga Kerja?

Pekerja tak dibayar tersebut dapat terdiri dari:

Anggota rumah tangga dari orang yang dibantunya, seperti istri/anak yang membantu suaminya/ayahnya bekerja di sawah dan tidak dibayar.

Bukan anggota rumah tangga tetapi keluarga dari orang yang dibantunya, seperti famili yang membantu melayani penjualan di warung dan tidak dibayar.

Bukan anggota rumah tangga dan bukan keluarga dari orang yang dibantunya, seperti orang yang membantu menganyam topi pada industri rumah tangga tetangganya dan tidak dibayar. Metodologi Sumber utama data ketenagakerjaan adalah Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).

  1. Survei ini khusus dirancang untuk mengumpulkan informasi/data ketenagakerjaan.
  2. Pada beberapa survei sebelumnya, pengumpulan data ketenagakerjaan dipadukan dalam kegiatan lainnya, seperti Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Sensus Penduduk (SP), dan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS).
  3. Sakernas pertama kali diselenggarakan pada tahun 1976, kemudian dilanjutkan pada tahun 1977 dan 1978.

Pada tahun 1986-1993, Sakernas diselenggarakan secara triwulanan di seluruh provinsi di Indonesia, baru sejak tahun 1994-2001, Sakernas dilaksanakan secara tahunan yaitu setiap bulan Agustus. Pada tahun 2002-2004, di samping Sakernas Tahunan dilakukan pula Sakernas Triwulanan.

  • Pada tahun 2005-2010, pengumpulan data Sakernas dilaksanakan secara semesteran pada bulan Februari (Semester I) dan Agustus (Semester II).
  • Mulai tahun 2011 Sakernas dilakukan kembali secara triwulanan, yaitu bulan Februari (Triwulan I), Mei (Triwulan II), Agustus (Triwulan III), dan November (Triwulan IV).

Sakernas Triwulanan ini dimaksudkan untuk memantau indikator ketenagakerjaan secara dini di Indonesia, yang mengacu pada KILM ( The Key Indicators of the Labour Market ) yang direkomendasikan oleh ILO ( The International Labour Organization ). Hasil Sakernas Triwulan I, II, dan IV disajikan sampai tingkat provinsi (jumlah sampel 50.000 rumah tangga).

You might be interested:  Mengapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tidak Ramah Lingkungan?

Sementara Sakernas Triwulan III, disajikan sampai tingkat kabupaten/kota, karena jumlah sampel cukup besar sekitar 200.000 rumah tangga, dimana jumlah tersebut terdiri dari 50.000 rumah tangga merupakan sampel Sakernas Triwulanan dan 150.000 rumah tangga sampel Sakernas tambahan. Keterangan yang dikumpulkan Keterangan pokok berkaitan dengan ketenagakerjaan yang dikumpulkan melalui Sakernas adalah keterangan perorangan dari setiap anggota rumah tangga yang berumur 10 tahun ke atas.

Meskipun demikian, informasi yang disajikan hanya informasi dari penduduk yang berumur 15 tahun ke atas. Informasi tersebut meliputi:

  1. Keterangan identitas anggota rumah tangga seperti: nama, hubungan dengan kepala rumah tangga, jenis kelamin, umur, status perkawinan dan pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Kegiatan selama seminggu yang lalu seperti: bekerja (paling sedikit 1 jam dalam seminggu), punya pekerjaan namun sedang tidak bekerja, mencari pekerjaan/ mempersiapkan usaha, sekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya (pensiun, cacat jasmani dan lain-lain).
  2. Bagi mereka yang bekerja/punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja ditanyakan antara lain jumlah hari kerja, jam kerja, lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, status pekerjaan, dan upah/gaji bersih selama sebulan.
  3. Bagi mereka yang mencari pekerjaan/mempersiapkan usaha ditanyakan; alasan utama mencari pekerjaan/ mempersiapkan usaha, upaya yang dilakukan, lama waktu mencari pekerjaan dan jenis pekerjaan yang dicari (pekerjaan purna waktu atau paruh waktu).

Apa yang dimaksud angkatan kerja Menurut UU No 13 Tahun 2003?

2. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

Mengapa usia 15-64 dikatakan sebagai usia produktif?

Penduduk usia produktif adalah penduduk yang masuk dalam rentang usia antara 15- 64 tahun. Penduduk usia itu dianggap sudah mampu menghasilkan barang maupun jasa dalam proses produksi. Sedangkan dalam katagori terakhir aalah penduduk yang berusia lebih dari 64 tahun.

Usia kerja dari berapa sampai berapa?

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau produk serta jasa baik untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun masyarakat. Tenaga kerja menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, tenaga kerja (manpower) diartikan setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat.

  1. Tenaga kerja memerlukan ketersediaan lapangan pekerjaan atau kesempatan kerja kesempatan kerja menunjukkan ketersediaan lapangan pekerjaan untuk diisi pencari kerja.
  2. Secara garis besar, penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja.
  3. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja.

Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun hingga 64 tahun. Oleh karenanya, setiap orang yang mampu bekerja maka bisa disebut sebagai tenaga kerja. Ada banyak pendapat mengenai usia dari para tenaga kerja ini, ada yang menyebutkan di atas 18 tahun ada pula yang menyebutkan di atas 20 tahun, bahkan ada yang menyebutkan di atas 7 tahun karena anak-anak jalanan yang bekerja sudah termasuk tenaga kerja.

Apakah umur 18 tahun bisa kerja?

Usia minimum untuk bekerja – Usia minimum untuk pekerjaan yang bersifat tetap adalah 15 tahun. Hukum melarang perusahaan mempekerjakan anak-anak. Menurut undang-undang anak adalah setiap orang yang berumur kurang dari 18 tahun. Pekerja muda yang berusia antara 13 sampai 15 tahun dapat dipekerjakan untuk pekerjaan ringan, asalkan pekerjaan tersebut tidak mempengaruhi perkembangan fisik, mental dan sosialnya.

Pekerjaan ringan memerlukan izin tertulis dari orang tua/wali dan majikan harus memberi mereka kontrak kerja; anak hanya dapat dipekerjakan pada siang hari selama 3 jam (maksimal) tanpa mengganggu sekolahnya; Persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja harus dipenuhi; dan upah diberikan sesuai dengan hukum yang berlaku.

apabila seorang anak bekerja dalam bisnis keluarga, persetujuan orang tua/wali, adanya kontrak kerja tertulis dan pembayaran upah bukanlah persyaratan. Anak-anak berusia 14 tahun atau lebih dapat dipekerjakan di tempat kerja sebagai bagian dari kurikulum atau pelatihan pendidikan sekolah mereka yang telah disahkan oleh pihak berwenang, dengan ketentuan bahwa anak-anak tersebut diberi petunjuk yang jelas tentang cara melakukan pekerjaan mereka serta bimbingan.

  • Dan pengawasan terhadap cara pelaksanaan pekerjaan; dan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja anak-anak dilindungi.
  • Undang-undang juga mensyaratkan bahwa tempat kerja anak harus terpisah dari pekerja/buruh dewasa.
  • Juga, anak-anak dianggap sedang bekerja jika mereka ditemukan di tempat kerja kecuali ada bukti yang membuktikan sebaliknya.
You might be interested:  Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Menggunakan Energi Yang Berasal Dari?

Usia wajib belajar adalah 15 tahun. Source: §68-73 Undang-Undang Ketenagakerjaan (UU Nomor 13/2003) sebagaimana telah diubah dengan UU Cipta Kerja (UU Nomor 11/2020); §48 Undang-Undang Perlindungan Anak (UU No.23/2002); §6 & 34 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No.20/2003)

Apakah umur 16 tahun bisa bekerja?

1. Usia minimum untuk diperbolehkan masuk kerja setiap jenis pekerjaan atau kerja, yang karena sifatnya atau karena keadaan lingkungan dimana pekerjaan itu harus dilakukan mungkin membahayakan kesehatan, keselamatan atau moral orang muda, tidak boleh kurang dari 18 tahun.

Kenapa usia pelamar harus di bawah 25 tahun?

Kenapa Usia Pelamar Kerja Dibatasi? Photo by on Setiap manusia yang hidup di dunia umumnya mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang mencakup pangan, papan dan sandang. Tidak bisa dipungkiri bahwa hidup manusia memang tidak bisa terlepas dari ketiga hal tersebut.

  1. Di dunia yang semakin modern seperti sekarang ini, banyak membuat kita geleng-geleng kepala karena kerasnya menjalani kehidupan, yang bahkan dari hal kecil saja.
  2. Salah satunya adalah tentang usia pelamar kerja.
  3. Para pencari kerja mengalami perasaan “dibatasi”, karena tidak bisa melamar ke mana-mana hanya karena ada angka persyaratan umur maksimal di iklan lowongan pekerjaan.

Banyak sumber yang menyebutkan bahwa alasan dasar dibalik pembatasan usia pencari kerja adalah usia produktif. Tidak sedikit yang mengeluhkan pada usia 25 tahun pun sudah susah mencari pekerjaan di perusahaan. Saya pribadi pun juga sedikit mengeluhkan hal tersebut, karena menurut saya sebelum usia 25 tahun pun masih kesulitan mencari pekerjaan sebelum akhirnya saya bekerja dan mengambil pengalaman sebagai guru.

Menjadi pengangguran di usia yang masih sangat muda pun terasa sangat menggelisahkan, apalagi dengan tuntutan orang tua yang dengan harapan anaknya bisa bekerja dengan gaji yang tinggi. Situs Job-Like Magazine menyebutkan bahwa, jika perusahaan bisa mendapatkan karyawan yang muda dan belum berkeluarga, itu adalah efisiensi, karena tingkat upah bisa masuk dari struktur upah awal.

Selain itu, umumnya angkatan muda yang belum berkeluarga, ia tentu belum ada tanggungan biaya tetap ( Fixed Cost ) yang harus menjadi beban tambahan perusahaan. Dari pernyataan tersebut, kita bisa memahami alasan besarnya kenapa usia pelamar kerja dibatasi.

  • Mereka mungkin tidak mau rugi dan hanya fokus untuk terus mempertahankan eksistensi perusahaan.
  • Dan dari hal itu juga saya berpikir bahwa ini masuk akal, karena saya pun belum berkeluarga dan hanya fokus memikirkan untuk membangun karir.
  • Bisa jadi selama dahulu saya menganggur dan berkali-kali belum mendapatkan pekerjaan karena kemampuan saya kurang.

Ada salah satu teman saya yang menganggur hampir 1 tahun, bisa dibayangkan betapa gelisahnya ia apalagi orang tua kami juga sama-sama menuntut banyak hal. Satu sisi sebagai perempuan adalah wajar jika terus ditanyakan misalnya tentang bagaimana akan melangsungkan pernikahan jika tidak ada uang dan uang didapat hasil dari bekerja bukan uang dari orang tua, ataupun pertanyaan seputar kemandirian finansial, jika kita butuh beli alat kosmetik untuk merawat kecantikan diri, tidak mungkin dong terus minta uang dari orang tua, ya kan? atau bahkan yang lebih parahnya adalah jika seseorang masih bekerja dengan gaji kecil tetapi ia berani berhutang karena kesalahannya sendiri dan tidak mampu melunasinya, maka sudah tentu akan mengecewakan orang tuanya.

Dan disisi lain, sebagai perempuan bekerja sebelum menikah adalah kesempatan emas untuk mencoba banyak hal, jika belum kunjung mendapatkan pekerjaan pun masih bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti mengikuti pelatihan Prakerja, daripada terus galau dan mengeluhkan hidup yang susah. Jika menyadari sedikit saja mengapa kita tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, tentu kita tidak mudah mengeluh sulitnya mencari pekerjaan karena pembatasan usia.

Karena kita ini sebagai manusia memiliki pandangannya sendiri, tetapi jika didesak berbagai tuntutan mau tidak mau, kita harus berusaha lebih keras lagi mencari pekerjaan. Dan ada sebuah yang saya sukai, ketika kita menganggur itu sebenarnya tidak etis juga disebut “pengangguran” karena kata tersebut terkesan menyedihkan.

  1. Jadi sebutannya yang bagus itu adalah pejuang kerja.
  2. Dan evaluasi saya diakhir paragraf ini adalah memiliki harapan besar, jika dilowongan pekerjaan tetap ada pembatasan usia, setidaknya rekruter ataupun penyeleksi pelamar kerja bisa mempertimbangkan tidak hanya dari segi usia, tetapi kemauan keras dan pengalaman yang ada pada pelamar kerja.

Dan meski pembahasan ini belum tuntas pun, kita bisa mengambil sedikit hikmah bahwa pembatasan usia adalah bomerang besar untuk terus bekerja keras, dan bisa meyakinkan perusahaan atau tempat kerja yang dituju untuk menerima kita bekerja sebagai karyawan dan pejuang kerja.

Kapan waktu produktif Anda?

9. Ketika kita telah mengetahui waktu paling produktif, atur ulanglah daftar tugas yang kita miliki. – Selesaikan tugas-tugas penting pada waktu disaat kita berada dalam keadaan paling produktif. Kerjakan tugas-tugas yang lebih mudah disaat konsentrasi kita mulai menurun.

Berapa usia tidak produktif?

Rasio Ketergantungan –

Nama Indikator Rasio Ketergantungan
Konsep Definisi Perbandingan antara jumlah penduduk umur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun ke atas (keduanya disebut dengan bukan angkatan kerja/usia non produktif) dibandingkan dengan jumlah pendduk usia 15-64 tahun (angkatan kerja/ usia produktif).
Rumusan D R = P 0 − 1 4 + P 6 5 + P 1 5 − 6 4 × 1 0 0 % DR : Rasio ketergantungan P0-14: Jumlah penduduk usia muda (0 -14 tahun) P65+: Jumlah penduduk usia tua (65 tahun ke atas) P15-64: Jumlah penduduk usia produktif (15 – 64 tahum)
Kegunaan Rasio ketergantungan merupakan salah satu pendekatan untuk mengetahui bonus demografi yang akan berguna bagi pembangunan di bidang kependudukan.
Interpretasi Misalnya rasio ketergantungan adalah sebesar 54,7 persen, artinya setiap 100 orang yang berusia kerja(dianggap produktif) mempunyai tanggungan sebanyak 55 orang yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi
Dihasilkan Oleh

Pilot Sensus Penduduk 2020 tahun 2018

Copyright © 2022 Badan Pusat Statistik. All Rights Reserved.