Jenis Polutan Yang Berasal Dari Pembangkit Tenaga Nuklir Adalah?

Jenis Polutan Yang Berasal Dari Pembangkit Tenaga Nuklir Adalah
Limbah radioaktif termasuk ke dalam salah satu jenis polutan air yang sangat berbahaya. Limbah radioaktif tersebut berasal dari pembangkit listrik tenaga nuklir, limbah radioaktif rumah sakit, dan berbagai limbah radioaktif hasil industri lainnya.

Apa bahan dasar pembangkit listrik tenaga nuklir?

Pengenalan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir – Detail Jakarta. Batan.go.id – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN adalah sebuah pembangkit daya thermal yang menggunakan satu atau beberapa reaktor nuklir sebagai sumber panasnya. Prinsip kerja sebuah PLTN hampir sama dengan sebuah Pembangkilt Listrik Tenaga Uap, menggunakan uap bertekanan tinggi untuk memutar turbin. Daya sebuah PLTN berkisar antara 40 Mwe sampai mencapai 2000 MWe, dan untuk PLTN yang dibangun pada tahun 2005 mempunyai sebaran daya dari 600 MWe sampai 1200 MWe. Sampai tahun 2015 terdapat 437 PLTN yang beroperasi di dunia, yang secara keseluruhan menghasilkan daya sekitar 1/6 dari energi listrik dunia.

  • Sampai saat ini sekitar 66 unit PLTN sedang dibangun di berbagai negara, antara lain Tiongkok 28 unit, Rusia 11 unit, India 7 unit, Uni Emirat Arab 4 unit, Korea Selatan 4 unit, Pakistan dan Taiwan masing-masing 2 unit.
  • PLTN dikategorikan berdasarkan jenis reaktor yang digunakan.
  • Namun pada beberapa pembangkit yang memiliki beberapa unit reaktor yang terpisah memungkinkan untuk menggunakan jenis reaktor yang berbahan bakar seperti Uranium dan Plutonium.

Dilihat: 203633 : Badan Tenaga Nuklir Nasional – Pengenalan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Apakah energi nuklir tidak menyebabkan pencemaran udara?

Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi. Foto: Eka/od – Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi saat menghadiri The 2nd World Parliamentary Forum on Sustainable Development (WPFSD) di Bali, 12-13 September 2018, memberikan dorongan agar energi nuklir bisa menjadi topik pembahasan dan bisa diterapkan di setiap negara masing-masing dari anggota parlemen yang hadir.

  • Ide ini dia sampaikan dengan maksud mewujudkan industri hijau di masa yang akan datang.
  • Energi nuklir di samping bersih, juga bisa menghasikan listrik 24 jam.
  • Teknologi nuklir sudah sangat maju, sekarang generasi keempat.
  • Energi nuklir sudah sangat aman.
  • Saya dari Komisi VII mendorong agar energi nuklir yang merupakan energi baru, masuk dalam pemikiran perlemen dunia, diterapkan di setiap negara masing-masing.

Agar betul-betul tercipta industri hijau ke depan,” jelas Kurtubi sesaat setelah pembukaan forum WPFSD ke-2, di Bali, Rabu (12/9/2018). Politisi Partai NasDem itu menegaskan bahwa penggunaan energi nuklir sebagai pembangkit listrik sudah sangat aman. Pembangkit listrik tenaga nuklir menggunakan reaksi atom sebagai sumber energi pembangkitan listrik.

Pembangkit nuklir merupakan jenis pembangkit thermal yang sumber panasnya dari reaktor nuklir. Sama seperti tipe pembangkit thermal lainnya, panas ini digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang kemudian memutar generator. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tidak berkontribusi terhadap emisi karbon.

Tak ada emisi CO2 yang dikeluarkan oleh PLTN, karenanya PLTN tidak menjadi penyebab global warming, PLTN juga tidak mengeluarkan partikel polutan seperti halnya pembangkit thermal dari bahan fosil. Sehingga tidak menimbulkan pencemaran udara yang dapat menyebabkan hujan asam.

  1. Energi nuklir memiliki intensitas energi yang tertinggi, energi yang sangat besar diproduksi dari jumlah bahan bakar yang sangat sedikit.
  2. Politisi dapil NTB ini juga mengapresiasi forum parlemen yang bertajuk “Kemitraan menuju Energi Berkelanjutan bagi Semua” dengan dihadiri 194 peserta yang berasal dari parlemen 45 negara dan 5 negara observer itu.

“Saya pikir topik dari pertemuan parlemen dunia yang kedua di Bali ini sangat tepat. Ini sejalan juga dengan Paris Agreement, yang Indonesia, DPR di dalamnya juga Komisi VII, ikut meratifikasi menjadi undang-undang. Dimana kita harus konsen untuk mengurangi pemakaian energi kotor yang menimbulkan polusi, yang menghasilkan CO2, karbon dioksida yang besar,” jelas Kurtubi.

Apakah nuklir menghasilkan karbon dioksida?

Pembakaran bahan bakar dari energi fosilakan menghasilkan gas-gas sisa pembakaran. Pembakaran energi fosil (minyak bumi, gas, alam, dan batu bara) menghasilkan karbon dioksida. Uranium merupakan bahan bakar yang digunakan dalam energi nuklir. Uranium menghasilkan limbah yaitu berupa limbah radioaktif.

Dengan demikian, bahan bakar yang tidak menghasilkan karbon dioksida adalah uranium. Jadi, jawaban yang tepat adalah B. – Pembakaran bahan bakar dari energi fosil akan menghasilkan gas-gas sisa pembakaran. Pembakaran energi fosil (minyak bumi, gas, alam, dan batu bara) menghasilkan karbon dioksida. Uranium merupakan bahan bakar yang digunakan dalam energi nuklir.

Uranium menghasilkan limbah yaitu berupa limbah radioaktif. Dengan demikian, bahan bakar yang tidak menghasilkan karbon dioksida adalah uranium. Jadi, jawaban yang tepat adalah B.

Energi nuklir digunakan untuk apa?

Oleh : M. Hamidi Rahmat Bila mendengar kata “Nuklir”, sontak terbayang dalam pikiran kita pada umumnya, bom yang dijatuhkan Amerika Serikat pada bulan Agustus 1945 di dua kota Jepang, yaitu Hiroshima dan Nagasaki untuk mengakhiri Perang Dunia kedua. Sebanyak 129.000 jiwa tewas akibat bom atom atau bom nuklir tersebut.

  • Ini merupakan penggunaan senjata nuklir pertama kalinya dalam sejarah, dan mudah-mudahan juga yang terakhir.
  • Atau mungkin pikiran sebagian dari kita terbang ke Chernobyl di Ukraina (dahulu termasuk Rusia), dimana terjadi kecelakaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
  • Ada juga yang pikirannya terbang ke Fukushima (Jepang) yang PLTN nya meledak akibat terjadinya gempa dan tsunami pertengaahan Maret 2011.

Atau ke kota-kota lainnya yang pernah terjadi kecelakaan PLTN, seperti di beberapa kota di Amerika Serikat dan Eropah Timur. Kecelakaan PLTN Three Mile Island, Pennsylvania, Amerika Sekitat, terjadi pada 28 Maret 1979, yang mengakibatkan kerugian sekitar 2,4 miliar USD, tanpa ada korban jiwa.

Pada tanggal 9 Maret 1985 terjadi pula kecelakaan PLTN Athens, Alabama, Amerika Serikat, meskipun juga tidak menelan korban jiwa, tetapi mengakibatkan kerugian sekitar 1,8 miliar USD. Kemudian pada tanggal 11 April 1986 terjadi pula kecelakaan PLTN Plymouth, Massachusetts, Amerika Serikat, yang mengakibatkan kerugian sekitar 1.001 miliar USD, tanpa ada korban jiwa.

Sedangkan kecelakaan PLTN Chernobyl di Ukraina terjadi pada tanggal 26 April 1986, yang mengakibatkan 56 orang tewas dan 4.000 orang mengalami kanker akibat radiasinya. Kerugian ditaksir mencapai 6,7 miliar USD. Sebelumnya kecelakaan PLTN Jaslovske Bohunice, Cekoslovakia, terjadi pada tanggal 22 Februari 1977 dengan kerugian sekitar 1,7 miliar USD, tanpa korban jiwa.

Setahun sebelumnya, pada tanggal 5 Januari 1976 di tempat yang sama juga telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban 2 orang tewas. Memang sudah banyak terjadi kecelakaan PLTN. Dari tahun 1961 hingga 2011 atau dalam kurun waktu sekitar 50 tahun telah terjadi sekurangnya 24 kali kecelakaan PLTN.

Dari jumlah itu, terjadi di AS sebanyak 12 kali, di Rusia sebanyak 3 kali, di Jepang sebanyak 3 kali, di Cekoslovakia sebanyak 2 kali, di Jerman sebanyak 2 kali, di Switzerland sekali dan di Swedia sekali. Yang terbesar dan tak terlupakan sepanjang sejarah umat manusia, tentu kecelakaan PLTN Chernobyl di Ukraina dan PLTN Fukushima di Jepang (energitoday.com, Oct 9, 2012).

Pemanfaatan Nuklir Serentetan peristiwa kecelakaan PLTN itu membuat masyarakat dunia, termasuk masyarakat Indonesia takut dan khawatir jika di daerahnya sudah berdiri atau akan dibangun PLTN. Meskipun demikian, kita tidak boleh terlalu takut, tidak boleh anti, dan tidak boleh juga menjauhkan diri dari nuklir.

Yang kita perlukan adalah kehati-hatian, ketelitian, kecermatan dan kewaspadaan. Kita butuh nuklir, kita butuh PLTN. Kalaulah penduduk dunia ini tidak butuh, atau kalau para ahli sudah mampu menggantikannya dengan sumber energi lain untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik, tentu tidak ada lagi PLTN di muka bumi ini.

Soal kecelakaan, soal kelemahan PLTN, menurut Kepala Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto, tidak seorangpun yang bisa menjamin satu teknologi selalu aman 100 % sepanjang masa. Pada suatu saat mungkin saja terjadi kecelakaan. Hal tersebut disampaikan kepada penulis, ketika rombongan dari Sekretariat Kabinet mengunjungi reaktor serba guna Siwabessy di Batan Serpong pada tanggal 30 Desember 2015 yang lalu.

Benar juga yang dikatakan Kepala Batan bahwa tidak satupun teknologi yang bisa dijamin selalu aman 100 % sepanjang masa, misalnya teknologi transportasi. Betapa banyak sudah terjadi kecelakaan penerbangan, toh kita tetap naik pesawat. Betapa banyak sudah terjadi kecelakaan di perairan, toh kita tetap mengandalkan kapal laut.

  1. Betapa banyak sudah terjadi kecelakaan kereta api, toh kita rutin menggunakan jasa PT KAI ini.
  2. Betapa banyak sudah terjadi kecelakaan di jalan raya dan ini terjadi setiap hari di berbagai lokasi, toh kita selalu naik bis, selalu naik mobil atau selalu naik sepeda motor.
  3. Bahkan kecelakaan sepeda motor-lah yang paling banyak terjadi.

Dalam pemanfaatan nuklir untuk PLTN di negara kita, Pemerintah sangat hati-hati, cermat dan teliti. Kebijakan Pemerintah ini dapat dilihat dari sejumlah peraturan perundang-undangan yang diterbitkan. Misalnya, Undang-undang nomor 30 tahun 2007 tentang Energi, dan Peraturan Pemerintah nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN).

  1. Sebagaimana telah dijelaskan pada artikel terdahulu bahwa dalam Pasal 9 Peraturan Pemerintah nomor 79 tahun 2014 menargetkan EBT sebesar 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050.
  2. Sebagian kontribusi EBT tersebut juga bisa berasal dari nuklir, karena nuklir merupakan salah satu sumber energi baru, sebagaimana disebutkan dalam undang-undang nomor 30 tahun 2007.

Namun, Pasal 11 Peraturan Pemerintah nomor 79 tahun 2014 telah membatasi pemanfaatan sumber energi nuklir. Pasal tersebut menyatakan bahwa energi nuklir dimanfaatkan dengan mempertimbangan keamanan pasokan energi nasional dalam skala besar, mengurangi emisi karbon dan tetap mendahulukan potensi energi baru dan energi terbarukan sesuai nilai keekonomiannya, serta mempertimbangkan energi nuklir sebagai pilihan terakhir dengan memperhatikan faktor keselamatan secara ketat.

Selain untuk pembangkit listrik (PLTN), nuklir juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan manusia yaitu pangan/pertanian, kesehatan, industri, sumber daya alam dan lingkungan. Demikian ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Laporan Batan (6/9/2016) menyebutkan bahwa nuklir juga dimanfaatkan untuk (1) Litbang radiografi industri untuk pengujian material hingga logam tanah jarang yang digunakan oleh industri, (2) Aplikasi teknik nuklir khususnya sinar gamma untuk keperluan non destructive testing atau uji tak rusak bagi obyek tertentu, (3) Material maju untuk pembuatan baterai mikro isi ulang berbasis lithium ion dan polimer biodegradable yang ramah lingkungan untuk peralatan elektronik, dan (4) Litbang tanah jarang, serta penyelidikan, eklporasi dan ekploitasi mineral radioaktif, dan pencarian sumber air tanah.

Pemanfaatan Nuklir di Bidang Pangan Pemanfaatan nuklir di bidang pangan/pertanian, kesehatan dan industri tidak terbatas pada uraian dibawah ini, karena yang dijabarkan hanyalah apa yang dihasilkan dan dilaporkan oleh Batan. Dalam laporan tersebut, Batan memaparkan bahwa dalam kerangka mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, Litbang Batan telah menghasilkan varietas tanaman pangan unggul yaitu lebih dari 21 (dua puluh satu) varietas padi unggul, 8 (delapan) varietas kedelai, 2 (dua) varietas kacang hijau, 1 (satu) varietas sorgum dan gandum tropis.

Terhadap benih varietas tanaman pangan unggul yang telah dihasilkan tersebut, Batan telah melakukan kajian dari aspek ekonomi dan melakukan upaya-upaya agar benih varietas tersebut dapat diproduksi dan dipasarkan sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Benih padi varietas Batan telah terbukti bisa meningkatkan pendapatan petani sekitar 25% karena produktivitasnya lebih tinggi (7-9 ton/ha) dibandingkan dengan rata-rata produktivtas nasional (5,1 ton/ha).

Beberapa varietas padi hasil litbang Batan yang diminati petani (Si-denuk, Bestari, Mugibat, Suluttan Unsrat-1 dan 2, Mira-1) telah diproduksi oleh para produsen benih di beberapa daerah (rata-rata produksi 100 ton/tahun). Benih Kedelai varietas Batan rata-rata mempunyai produktivitas sebesar 2,2 sampai 3,6 ton/ha, lebih tinggi daripada rata-rata nasional yang kurang dari 1,8 ton/ha.

Beberapa varietas kedelai Batan yang sudah diproduksi oleh penangkar daerah adalah: Mutiara 1, 2 dan 3, Rajabasa, Gama-sugen dan Mitani. Sedangkan untuk Benih Sorgum, hasil studi kelayakan menunjukkan bahwa secara ekonomi budidaya Sorgum layak dikembangkan di daerah marginal dengan memanfaatkan sistem pertanian terpadu (pangan, pakan ternak, dan industri).

Namun, sampai saat ini belum ada ketertarikan petani di daerah untuk mengembangkan budidaya Sorgum. Oleh karena itu Batan sedang melakukan pembinaan kepada petani untuk mengembangkan budidaya Sorgum di daerah potensial, melalui kerja sama dengan kelompok tani atau kelompok peternak, industri pangan, koperasi, dinas pertanian dan perguruan tinggi.

Pemanfaatan Nuklir di Bidang Kesehatan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menetapkan bahwa pembangunan sektor kesehatan dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya yang diimplementasikan melalui upaya kesehatan. Kegiatan terkait upaya kesehatan dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan masyarakat.

Peran aplikasi teknologi nuklir dalam mengembangkan sejumlah peralatan medis dan produk kesehatan untuk menangani berbagai penyakit, yaitu: Kamera Gamma, Renograf dan Thyroid Uptake, Radiofarmaka I-131 Hippuran, Biomaterial untuk Keperluan Klinis, Mo-99/Tc-99 Generator dan I-131 Oral Solution.

  • Pertama, Kamera Gamma.
  • Digunakan dalam penelitian kanker payudara dan kanker prostat dan keperluan riset penyakit lainnya yang menyangkut jantung, tulang, otak, fungsi ginjal dan lain sebagainya.
  • Eunggulannya, dapat memberikan informasi fisiologis sehingga jika terjadi kelainan fisiologi dapat segera diketahui.

Tingkat akurasi yang tinggi dan waktu analisis yang cepat. Harga jauh lebih murah dibanding produk impor. Kedua, Renograf dan Thyroid Uptake. Renograf XP USB merupakan alat periksa fungsi ginjal berbasis teknik nuklir yang dioperasikan dengan sistem komputer.

Alat ini telah tervalidasi dalam seminar yang diselenggarakan oleh Badan Tenaga Atom Internasional. Sedangkan Thyroid Uptake merupakan perangkat diagnostik uji tangkap kelenjar gondok atau thyroid up-take diagnostic secara in vivo, Fungsi alat ini untuk mempelajari kecepatan kelenjar gondok dalam mengakumulasi dan melepaskan iodium sebagai komponen pembentukan hormon tiroksin.

Perunut yang dipakai adalah isotop Iodium-131 (I-131) yang diberikan ke pasien Ketiga, Radiofarmaka I-131 Hippuran. Digunakan untuk pemindaian tulang dan pemeriksaan fungsi ginjal. I-131 Hippuran saat ini diproduksi oleh Batan bersama PT. Inuki (Persero) dengan produksi rata2 100 mCi/minggu atau 400 mCi/bulan.

You might be interested:  How Much Energy Is Generated By Solar Panels?

Total produksi dalam satu tahun sekitar 4.800 mCi I-131 Hippuran. Jika ditinjau dari pasien ginjal yang meningkat dari tahun ke tahun, kebutuhan Hipuran I-131 jumlahnya cukup besar. Namun hal ini harus diimbangi dengan penyebaran alat Renograf yang menggunakan hipuran tersebut. Penyebaran Renograf yang mulai diproduksi oleh pihak swasta harus bisa menembus wilayah yang membutuhkan alat tersebut khususnya di daerah yang mempunyai kasus penyakit ginjal cukup tinggi.

Keempat, Biomaterial untuk Keperluan Klinis, berupa allograf tulang manusia, xenograft/graf tulang sapi, dan membran amnion. Berdasarkan data tahun 2014 nilai kapitalisasi impor biomaterial dibutuhkan 1,4 juta pcs bahan biomaterial. Kebutuhan ini meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan meningkatnya kasus penyakit seperti kanker tulang, periodentitis, patah tulang dan trauma pada mata.

Kelima, Mo-99/Tc-99 Generator dan I-131 Oral Solution. Batan bersama PT Inuki telah mampu memproduksi untuk mencukupi kebutuhan nasional, bahkan melakukan ekspor di beberapa negara di Asia (Malaysia, Vietnam, China, Bangladesh, Korea, Jepang, dan Philipina). Harga produk Batan dan PT Inuki jauh lebih murah dibanding produk negara lain.

Kebutuhan dalam negeri untuk Tc-99 Generator sekitar 500 unit. Kebutuhan I-131 Oral Solution adalah 90.000 mCi/tahun. Sedangkan kebutuhan Mo-99 untuk Asia sebesar 1.200 Ci/tahun. Sementara kebutuhan dunia akan radioisotop ini juga semakin meningkat Disamping kelima produk kesehatan tersebut di atas, Batan juga mengaplikasi radiasi sinar gamma dari iradiator untuk mensterilkan beberapa alat dan produk kesehatan seperti jarum suntik, sarung tangan bedah, kateter, dan hemodialiser atau alat pencuci darah.

Selain itu, sterilisasi juga dilakukan terhadap bahan jaringan dan jaringan biologi yang kemudian di simpan di Bank Jaringan. Sterilisasi dilakukan dengan memanfaatkan energi radiasi yang tinggi guna membunuh mikroba seperti bakteri, jamur (kapang), atau virus. Pemanfaatan Nuklir di Bidang Industri Di bidang industri, Batan memiliki dua produk yaitu Radioisotop Iridium-192 (Ir-192) dan Portal Monitor Radiasi (PMR).

Pertama, Radioisotop Iridium-192 (Ir-192) digunakan sebagai Gamma Camera untuk uji tak merusak (NDT). Pada dasarnya PT Inuki mampu memproduksi Ir-192 sumber tertutup secara ekonomis untuk keperluan NDT (jasa radiografi). Nilai jual Ir-192 yang diproduksi PT Inuki lebih rendah/ lebih ekonomis dibandingkan harga impor.

  • Dan produksi Ir-192 sumber tertutup untuk NDT memberikan nilai ekonomi yang tinggi.
  • Edua, Portal Monitor Radiasi (PMR) digunakan untuk mengawasai peredaran radioaktif, dan juga sebagai keamanan peredaran radiaktif, termasuk peredaran radiaktif yang illegal.
  • Produk ini cukup prospektif digunakan di bandar udara, pelabuhan dan perbatasan wilayah.

Pada dasarnya PT Inuki mampu memproduksi PMR untuk mendukung ketahanan nasional, tetapi sampai saat ini masih diproduksi untuk skala litbang, dan belum dapat diproduksi massal.

Apakah nuklir termasuk energi hijau?

Nuklir adalah Energi Hijau di Uni Eropa UNI Eropa berawal dari Treaty on the Functioning of the European Union (TFEU), juga dikenal sebagai Perjanjian Roma. Perjanjian ini adalah satu dari dua perjanjian yang menjadi landasan konstitusional berdirinya Uni Eropa.

Perjanjian Roma ditandatangani pada 25 Maret 1957 oleh enam negara yaitu Belanda, Belgia, Italia, Jerman, Luksemburg, dan Prancis yang berlaku efektif 1 Januari 1958. Peristiwa tersebut dikenal sebagai pembentukan European Economic Community (EEC) atau Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Pada saat yang sama juga dibentuk European Atomic Energy Community (Euratom).

Keenam negara itu dikenal sebagai pelopor berdirinya Uni Eropa ( the inner six ). Setelah tembok Berlin runtuh dan unifikasi Jerman, MEE menetapkan Uni Eropa melalui Traktat Uni Eropa (Treaty of the European Union) yang dikenal dengan Traktat Maastricht ditandatangani pada 1992 (berlaku efektif 1 November 1993), di Maastricht, Belanda oleh 10 negara (Denmark, Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Yunani, Irlandia, Italia, Portugis, dan Spanyol).

Berawal dari enam anggota, dalam perkembangan sampai awal 2020 berjumlah 28 anggota namun Britania Raya/Inggris keluar sebagai anggota Uni Eropa (UE) pada 31 Januari 2020. Saat ini jumlah riil anggota UE adalah 27 negara. UE sebagai organisasi antarpemerintahan dan supranasional memiliki penduduk berjumlah 447.007.596 jiwa (data 1 Januari 2021).

Dengan luas 4.475.757 km2, merupakan salah satu organisasi terbesar di dunia. UE menyepakati euro menjadi alat pembayaran yang sah di wilayah mereka. Berikut daftar 27 negara anggota UE yaitu Austria, Belgia, Bulgaria, Kroasia, Siprus, Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Irlandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luksemburg, Malta, Belanda, Polandia, Portugal, Rumania, Slovakia, Slovenia, Spanyol, dan Swedia yang bermarkas di Brussels, Belgia.

  • UE terdiri dari beberapa unit organisasi antara lain komisi, parlemen, dewan, mahkamah, dan Bank Sentral Eropa.
  • Omisi Eropa (European Commission) adalah badan eksekutif UE.
  • Bersama parlemen Eropa dan dewan UE, badan ini adalah salah satu dari tiga institusi utama yang menjalankan pemerintahan UE.
  • Omisi Eropa adalah pelaksana dari UE untuk mempromosikan kepentingan secara umum.

Pada 2 Februari 2022 Komisi Eropa mendeklarasikan energi nuklir dan gas alam sebagai energi hijau. Latar belakang deklarasi itu bahwa nuklir adalah energi hijau karena hasil kajian dari UE. Nuklir yang selama ini dianggap tidak ramah lingkungan terbukti tidak benar.

Hal tersebut didasarkan pada studi European Commission Joint Research yang hasilnya baru saja dirilis pada Maret 2021; tidak ada bukti berbasis sains bahwa energi nuklir lebih membahayakan kesehatan manusia/lingkungan daripada teknologi produksi listrik lainnya, yang sudah termasuk taxonomy sebagai kegiatan yang mendukung perubahan iklim melalui kajian berjudul Technical Assessment of Nuclear Energy with Respect to the do no Significant Harm Criteria of Regulation (EU) 2020/852 (taxonomy regulation).

Para ahli sepakat mengenai fakta yang tidak terbantahkan bahwa bukan saja nuklir memproduksi emisi CO2 yang rendah, tetapi juga ramah lingkungan. Nuklir merupakan bauran enegi bersih terbesar khususnya bagi negara maju di dunia. Data dari statistical review of world energy menunjukkan bahwa dalam produksi listrik nirkabon di negara maju di dunia hingga 2018, bauran energi nuklir adalah 40% atau mendekati angka 2.000 TwH.

Sedangkan untuk bauran pembangkit tenaga hidro adalah 30%, tenaga angin 15% dan tenaga surya 6%. Padahal ketiga pembangkit tersebut yang selalu digadang-gadang hanya memiliki bauran di bawah atau setara dengan 30%, masih di bawah bauran nuklir. Hal yang demikian menunjukkan negara maju lebih mengandalkan nuklir daripada energi terbarukan dalam hal produksi listrik nirkabon untuk energi yang lebih bersih.

Perdebatan apakah nuklir adalah energi ramah lingkungan telah berlangsung cukup lama di Komisi Eropa. Beberapa negara mengatakan nuklir tidak ramah lingkungan dan tidak berkelanjutan antara lain Jerman yang menolak nuklir dimasukan taxonomy green energy,

Sementara Prancis dan beberapa negara lainnya mengatakan sebaliknya. Hal itu menyebabkan perlakuan berbeda terhadap nuklir, termasuk berbagai insentif pembiayaan dari sumber dana hijau ( green funding ) yang dinikmati sumber energi bersih lainnya, yang mana tidak didapat oleh nuklir. Hal ini merugikan negara-negara yang memanfaatkan PLTN di dunia.

Dengan keluarnya hasil kajian tersebut, perdebatan itu telah selesai dan nuklir seharusnya berhak mendapatkan status sebagai energi ramah lingkungan dengan mengantongi green investment label setelah adanya kajian joint research yang dilakukan oleh European Commission tersebut.

Kajian itu telah membuktikan bahwa nuklir adalah energi ramah lingkungan, sama dan setara dengan energi air ( hydro ) dan energi terbarukan lainnya yang dianggap ramah lingkungan. Berdasarkan hasil kajian tersebut, beberapa kepala negara di Uni Eropa yang memanfaatkan energi nuklir seperti Prancis, Republik Ceko, Hungaria, Polandia, Rumania, Slovania, dan Slovakia menuntut adanya persamaan insentif yang diberikan terhadap energi nuklir.

Itu karena selama ini energi lain yang ramah lingkungan mendapat insentif iklim dan energi, sedangkan energi nuklir tidak. Tuntutan negara-negara tersebut ditandai dengan mengirim surat bersama kepada Komisi Uni Eropa terkait peran energi nuklir terhadap iklim dan ketentuan energi di UE.

  1. Hal itu mengingat pula setengah dari negara-negara anggota UE menggunakan dan/atau mengembangkan nuklir.
  2. Dalam konteks ini, semua teknologi yang tidak memiliki dan rendah emisi harus diperlakukan sama dalam semua kebijakan, termasuk taxonomy regulation yang bertujuan untuk mencapai netralitas iklim pada 2050.

( ruangenergi.com 27 April 2021). Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Pusat Studi Lingkungan Universitas Gajah Mada (UGM) yang mengatakan bahwa nuklir adalah energi ramah lingkungan karena bebas emisi GRK (gas rumah kaca), footprint relatif kecil, tidak mengganggu keseimbangan ekosistem, serta limbahnya terkelola dan terkontrol dengan aturan yang jelas.

Dari data PRIS ( power reactor information system ) IAEA (International Atomic Energy Agency), lembaga PBB yang bermarkas di Wina, Austria mengungkapkan 11 dari 27 negara UE saat ini memiliki PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir) yaitu Prancis (56 unit, terbanyak kedua di-dunia setelah AS), Belgia (7 unit), Spanyol (7 unit), Swedia (6 unit), Cekoslowakia (6 unit), Finlandia (5 unit), Hungaria (4 unit), Slovakia (4 unit), Jerman (3 unit), Bulgaria (2 unit), dan Belanda (1 unit).

Dengan jumlah 101 unit itu tipe reaktor nuklirnya pada umumnya adalah; PWR ( pressurized water reactor ) dengan jumlah 94 unit, kecuali Spanyol, Swedia, dan Finlandia memiliki tipe BWR ( boiling water reactor ), masing 1, 4, dan 2 unit. Klausul nuklir adalah energi hijau yang ditetapkan oleh UE tersebut karena Prancis adalah negara ke-2 terbesar di dunia yang memanfaatkan energi nuklir.

Dari catatan sejarah, Prancis adalah negara ke-4 yang memiliki PLTN setelah Rusia (beroperasi 26 Juni 1954 di Kota Obninsk), Inggris (beroperasi 27 Agustus 1956 di Kota Cumbria), AS (beroperasi 2 Desember 1957 di Kota Shippingport, Pennsylvania), Prancis, Energi nuklir yang diproduksi oleh 56 PLTN di Prancis memasok 70,6% dari konsumsi nasional, suatu angka tertinggi dari negara-negara yang memiliki PLTN di dunia.

Produksi listrik PLTN Prancis bahkan mensuplai kebutuhan energi di negara-negara tetangga seperti Luksemburg, Belgia, Swiss dan bahkan Jerman. Banyak negara membangun PLTN pada awalnya dibangun oleh Prancis dengan tipe PWR; Daya Bay 1 dan 2 di Shenzhen City, Tiongkok.

Daya Bay 1 ( construction start date 7 Agustus 1987 dan commercial operation date 1 Februari 1994). Sedangkan Daya Bay 2 ( construction start date 7 Februari 1988 dan commercial start date 6 Mei 1994). Pada awalnya, reaktor tipe PWR diadopsi Prancis dari Westinghouse, AS melalui lisensi. Namun sejak 1981 lisensi diperbarui dengan memberikan otonomi yang lebih besar kepada Prancis.

Sejak saat itu Prancis mampu mengembangkan standar reaktornya sendiri tanpa bergantung pihak lain. Beberapa negara selain Tiongkok juga menggunakan reaktor nuklir tipe PWR Prancis, misalnya Korea Selatan, India, Finlandia, dan lain-lain. Sebelum keputusan UE yang mengatakan nuklir adalah energi hijau, Presiden Prancis Emmanuel Marcon pada 9 November 2021 mengatakan bahwa Prancis akan membangun reaktor nuklir baru untuk membantu negara itu mengurangi ketergantungan pasokan energi pada negara asing, memenuhi target pemanasan global, dan menjaga harga tetap terkendali.

  • Eputusan untuk menggunakan reaktor baru sangat penting untuk menjaga harga tetap masuk akal.
  • Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, kami akan meluncurkan kembali pembangunan reaktor nuklir di negara kami dan terus mengembangkan energi terbarukan.
  • Ini dimaksudkan untuk menjamin kemandirian energi Prancis, untuk menjamin pasokan listrik negara kita dan mencapai tujuan kita, khususnya netralitas karbon pada 2050 ( mediaindonesia.com, 10/10/2021).

Setelah UE mendeklarasikan nuklir sebagai energi hijau pada 2 Februari 2022, Macron pada Kamis (10/2) mengulang kembali pernyataannya pada 9 November 2021 bahwa Prancis akan membangun setidaknya enam reaktor nuklir baru dalam beberapa dekade mendatang.

  1. Pembangunan ini menempatkan tenaga nuklir di jantung upaya Prancis untuk mencapai netralitas karbon dan emisi nol pada 2050.
  2. Macron mengatakan PLTN baru akan dibangun dan dioperasikan oleh penyedia energi yang dikendalikan negara (EDF).
  3. Puluhan miliar euro pembiayaan publik akan dimobilisasi untuk membiayai proyek dan menjaga keuangan EDF.

Macron juga mengumumkan akan memperpanjang usia pakai pembangkit nuklir yang lebih tua menjadi 50 tahun dari 40 tahun saat ini, selama aman digunakan. Ia juga menjanjikan untuk mempercepat pengembangan tenaga surya dan tenaga angin lepas pantai sebagai sumber energi listrik di Prancis.

  1. Ami beruntung di Prancis dapat mengandalkan industri nuklir yang kuat, kaya akan pengetahuan dan dengan ratusan ribu pekerjaan,” kata Macron saat memperkenalkan strategi nuklir barunya di kota industri timur Belfort.
  2. Pengumuman itu datang pada saat yang sulit bagi EDF yang bergulat dengan masalah korosi, sehingga memaksa beberapa reaktor nuklir lama tidak beroperasi untuk waktu yang lama.

Selain itu, EDF juga harus membujuk pemodal asing bahwa mereka dapat menyelesaikan proyek tepat waktu dan sesuai anggaran. Cetak biru nuklir Macron memperkuat komitmennya terhadap tenaga nuklir, andalan kekuatan industri Prancis pascaperang. Reaktor EPR ( European power reactor ) generasi baru pertama akan bekerja pada 2035.

Studi untuk delapan reaktor tambahan akan diluncurkan, di luar enam PLTN baru. Prancis mengumumkan akan membangun setidaknya enam reaktor nuklir baru dalam beberapa dekade mendatang. Pembangunan ini menempatkan tenaga nuklir di jantung upaya Prancis untuk mencapai netralitas karbon dan emisi nol pada 2050.

( France24 ) Negara akan memikul tanggung jawabnya dalam mengamankan keuangan EDF dan kapasitas pembiayaan jangka pendek dan menengahnya. “Kami tidak akan mengecewakan EDF,” tutur Macron ( Kompas TV, 11/2/2022). EDF (Électricité de France) adalah sebuah perusahaan utilitas listrik Prancis, sebagian besar sahamnya dimiliki oleh negara.

Berkantor pusat di Paris dengan pendapatan 71,2 miliar euro pada 2016, EDF mengoperasikan portofolio beragam kapasitas pembangkit 120+ gigawatt di Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara, Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Pada 2009 EDF adalah produsen listrik terbesar di dunia. Di 2022 Indonesia menjadi Presidensi G-20 yang merupakan forum kerja sama multilateral 19 negara dan UE.

G-20 adalah bagian penting dunia, karena merepresentasikan lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Anggota G20 adalah Afrika Selatan, AS, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Prancis, Tiongkok, Turki, dan UE.

  1. Puncaknya akan dilaksanakan pada 15-16 November 2022 di Bali yang akan dihadiri para presiden atau perdana menteri.
  2. Menko Maritim dan Investasi (Marves) Luhut Panjaitan dalam acara Global Dialogue di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) 27 April 2022, menuturkan agenda utama Indonesia, “Melalui Presidensi G20 2022, kami (Indonesia) mengajak seluruh dunia untuk bekerja sama dalam membangun arsitektur kesehatan global, transformasi digital dan ekonomi, dan transisi energi berkelanjutan yang lebih baik.” Luhut juga mengatakan akan membahas tentang pentingnya merawat lingkungan agar iklim dunia terus terjaga.
You might be interested:  Apa Kegunaan Kompor Tenaga Surya Berbentuk Kotak?

Salah satunya dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Transisi energi menjadi salah satu agenda penting dan sudah terefleksikan dalam isu utama Presidensi G-20 2022. Dengan begitu, harapannya investasi untuk pengembangan energi hijau meningkat untuk mencapai net zero emission di 2050.

  • Biro Komunikasi Kemenko Marves, 28 April 2022).
  • Untuk pemulihan akibat covid 19 dan pengembangan/pertumbuhan ekonomi melalui kerja sama negara-negara anggota G-20, penyediaan energi yang cukup dengan harga yang bersaing sangat menentukan.
  • Tidak mungkin pertumbuhan ekonomi akan terjadi, jika tidak didukung dengan penyediaan energi yang cukup dengan harga bersaing.

Untuk mewujudkan hal itu kerja sama antarnegara yang saling menguntungkan, perlu dirintis/dibahas dalam G-20 ini. Terkait hal tersebut, kerja sama UE dan G-20 untuk mengembangkan energi hijau khususnya energi nuklir perlu mendapat prioritas untuk mengganti peran energi fosil yang tidak ramah lingkungan.

Hal itu sebagai tanggung jawab bersama untuk mewujudkan Persetujuan Paris/COP21 2015 yang menegaskan agar emisi karbon dipotong separuh pada 2030, mencapai keadaan bebas emisi ( net zero emission ) pada 2050, dan kenaikan suhu pemanasan global tidak melampaui 1,5 derajat celsius di atas tingkat suhu era pra-industri.

Dari catatan yang ada, anggota G20 yang bukan anggota UE, terdapat 11 negara yang memiliki PLTN yaitu AS, Argentina, Brasil, India, Inggris, Jepang, Kanada, Meksiko, Korea Selatan, Rusia, Tiongkok, dan satu negara sedang membangun PLTN yaitu Turki. Dengan program Indonesia untuk membahas penerapan energi hijau pada G-20 Indonesia tidak lagi ragu/alergi dengan pembangunan PLTN sebagai energi hijau.

  1. Demikian pula Rusia, AS, Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan telah memiliki teknologi reaktor nuklir untuk PLTN dengan kelebihannya masing-masing.
  2. Dalam upaya diversifikasi energi seluas mungkin menuju kemandirian energi, dalam forum G-20 ini sangat tepat bagi Indonesia melakukan langkah konkrit untuk negosiaisi bersama negara-negara produsen reaktor nuklir untuk PLTN dengan menentukan pilihan yang terbaik dan menguntungkan bagi Indonesia.

Di sisi lain UE dan anggota G-20 yang memiliki PLTN juga harus pro-aktif menjelaskan bahwa energi nuklir adalah energi hijau sebagaimana energi terbarukan lainnya seperti energi hidro, sinar matahari, dan angin yang saat ini sangat aktif dipropagandakan oleh kelompok-kelompok yang anti energi nuklir/PLTN.

Dengan keputusan Komisi Eropa bahwa energi nuklir adalah energi hijau, kiranya dapat meyakinkan Presiden Jokowi bahwa Indonesia butuh PLTN saat ini karena berbagai alasan rasional. Secara cermat harus diamati perkembangan dunia saat ini (khususnya perang Rusia-Ukraina) dengan segala tantangan dan peluangnya demi Indonesia maju, makmur, kuat dalam politik, ekonomi dan sektor lainnya, survive dengan segala persaingan, dan tahan banting.

Presiden Jokowi yang mewakili negara tidak boleh kalah dan mengalah apalagi takut dengan para mafia yang menghalangi pembangunan PLTN di Indonesia. Mafia juga adalah manusia yang memiliki rasa kemanusiaan dan rasa takut. Banyak kiat yang bisa dilakukan agar PLTN ini bisa segera terbangun di Indonesia dengan mengalahkan/menjinakkan para mafia ini (termasuk pembantu Presiden, jika ada).

Nuklir Apakah Ramah Lingkungan?

Ringkasan Eksekutif “Kajian Akademik Nuklir Sebagai Solusi dari Energi Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan untuk Mengejar Indonesia Sejahtera dan Rendah Karbon pada Tahun 2050″ Indonesia memiliki tantangan serius untuk memenuhi kebutuhan energi yang makin meningkat namun harus tetap ramah lingkungan dan berkelanjutan. Indonesia adalah negara maritim/kepulauan, negara yang unik di dunia dan tidak ada negara serupa Indonesia, maka Indonesia memiliki profil penyediaan listrik yang berbeda dengan negara kontinental.

Indonesia tidak mungkin mengimpor listrik dari negara lain, oleh karena itu, Indonesia harus mandiri dalam mengolah energi, khususnya energi listrik. Tantangan pertama adalah penyediaan energi listrik yang makin meningkat sejalan dengan meningkatnya populasi dan kesejahteraan. Tantangan kedua adalah bagaimana mewujudkan permintaan energi tersebut dengan menyediakan energi yang andal, ramah lingkungan, dan berkelanjutan sejalan komitmen Indonesia pada tujuan pencapaian pembangunan berkelanjutan (SDGs) dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) tahun 2030 dan komitmen terhadap Paris Agreement atau Conference of Parties (COP 21).

Tantangan ketiga adalah bagaimana Indonesia memiliki solusi energi yang unik sesuai dengan kondisi geografi, ketersediaan sumber daya alam (SDA) dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) agar Indonesia sejajar dengan negara lain, terdepan dalam energi.

Kesepakatan Paris memiliki kaitan erat dengan capaian SDGs ke-13, yaitu climate action. Indonesia perlu mengambil tindakan segera untuk mencegah perubahan iklim dan dampaknya, dengan mengimplementasikan cara produksi maupun cara konsumsi energi yang ramah terhadap lingkungan. Perubahan iklim dapat disebabkan oleh adanya pemanasan global, dan salah satu penyumbang naiknya pemanasan global adalah emisi gas rumah kaca (GRK).

Penyediaan energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan tertuang pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Bauran energi harus direncanakan agar semua potensi energi di Indonesia termanfaatkan maksimal, tentu saja rencana ini bertujuan untuk pengurangan pemakaian energi fosil dan menggenjot pemakaian energi baru terbarukan (EBT) agar skenario Indonesia Sejahtera menuju ekonomi rendah karbon dengan target nol karbon dapat tercapai setelah tahun 2050.

Energi ramah lingkungan harus rendah emisi gas ruang kaca (GRK) baik emisi dari proses penambangan, pengangkutan, saat beroperasi dan emisi total siklus operasi. Energi ramah lingkungan sebaiknya memiliki “footprint” atau pemakaian lahan yang relatif kecil untuk meminimalkan dampak perubahan fungsi lahan karena terbatasnya lahan di Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan densitas populasi tinggi. Energi ramah lingkungan harus dapat menjaga keseimbangan ekosistem, meliputi jaminan keamanan lingkungan flora dan fauna pada saat beroperasi baik gangguan perubahan suhu lingkungan, polusi udara, gangguan suara, dan gangguan ketersediaan cadangan air. Energi ramah lingkungan harus memiliki prosedur penanganan limbah terstandar dalam mengelola, mengolah, dan mengawasinya.

Selain dari keempat persyaratan energi ramah lingkungan di atas, energi ramah lingkungan juga harus berkelanjutan, baik ditinjau dari sumber daya alam berupa bahan baku dan bahan bakar, maupun dari sudut pandang keekonomian. Energi ramah lingkungan memberikan pasokan listrik berkualitas dengan harga lebih murah dibandingkan dengan pembangkit lainnya sehingga terjangkau oleh konsumen umum ataupun industri. Biaya produksi tanpa subsidi pemerintah serta jaminan ketersediaan cadangan bahan baku dan bahan bakar dalam jangka waktu panjang. Dengan demikian energi ramah lingkungan juga harus mempunyai sifat andal dan berkelanjutan. Tingkat penyediaan listrik, konsumsi listrik, dan tingkat pertumbuhan konsumsi listrik di Indonesia masih rendah dibandingkan negara tetangga. Percepatan tingkat konsumsi listrik di Indonesia akan tercapai apabila kapasitas produksi listrik di Indonesia mencukupi. Oleh karena itu, diperlukan pembangunan sumber pembangkit listrik yang efektif, efisien, dengan biaya investasi menarik karena menghasilkan listrik dengan harga jual murah dan terjangkau. Tingkat konsumsi listrik merupakan kunci untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6% dengan peningkatan pertumbuhan konsumsi listrik 230 kWh per kapita selama lima tahun terakhir atau sekitar 46 kWh per kapita per tahun. Terdapat korelasi positif antara Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan tingkat konsumsi listrik per kapita. Apabila dikaji dari tarif harga listrik, Indonesia mempunyai tarif yang hampir sama dengan negara lain di ASEAN. Namun, apabila perbandingan tarif listrik ditinjau dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita maka tarif listrik di Indonesia relatif lebih tinggi di ASEAN. Penduduk Indonesia membayar tarif listrik hampir sama dengan di Malaysia, Thailand, atau Singapura tetapi negara tersebut memiliki PDB per kapita lebih tinggi daripada Indonesia. Jadi, kelihatannya listrik Indonesia adalah murah tetapi sangat membebani penduduk. Adapun untuk membuat listrik menjadi murah, pemerintah memberikan subsidi yang bersumber dari APBN. Pada tahun 2020 subsidi listrik Indonesia mencapai Rp46,9 triliun. Energi fosil makin menipis dan harus segera dipilih energi pendamping energi fosil tersebut yang dikenal dengan energi transisi sehingga ketika energi fosil habis, penyediaan listrik di Indonesia tidak terganggu. Berkaca pada energi transisi yang dipilih oleh negara Jerman dan Prancis, kedua negara bertetangga di benua Eropa dengan PDB dan profil hampir sama tetapi memiliki kebijakan energi yang berbeda. Jerman memilih menutup nuklir serta mengandalkan energi terbarukan, yaitu angin dan surya, sementara Prancis mengandalkan nuklir sebagai bauran utama energi. Setelah hampir 30 tahun, implementasi energi nuklir sebagai energi ramah lingkungan yang berkelanjutan terbukti sukses di Prancis dengan rendahnya intensitas karbon (400 g CO2eq per kWh). Jerman gagal mencapai target penurunan emisi GRK untuk memenuhi target COP 21 karena saat cuaca ekstrem, surya dan angin tidak dapat berproduksi, dan akhirnya upaya kompensasi harus dilakukan Jerman dengan menambah produksi listrik dari energi fosil. Berdasarkan data empiris yang dipublikasikan oleh Grant Chalmers, menunjukkan bahwa negara di Eropa yang memiliki intensitas karbon rendah (<60 g CO2eq per kWh) adalah negara yang didominasi oleh pembangkit hidro, atau nuklir, atau kombinasi hidro dan nuklir. Berdasarkan kasus energi transisi di Jerman dan Prancis, jelas yang harus diikuti adalah kebijakan negara Prancis, bukan Jerman. Tetapi faktanya, sebagian besar negara di dunia lebih memilih mencontoh negara Jerman daripada Prancis. Indonesia juga masih bertahan dengan energi fosil dan implementasi energi nuklir belum terlihat nyata. Apabila energi yang digunakan di Indonesia adalah energi terbarukan (ET), maka jika ditinjau dari fungsinya mungkin memenuhi sebagai energi primer. Adapun bila ditinjau dari karakternya yang intermiten maka kurang memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai transisi energi pengganti energi fosil, karena ketergantungannya terhadap cuaca dan musim. Di samping itu, ET membutuhkan pembukaan lahan yang luas, ditambah kemungkinan sulitnya akses ke tempat sumber energi. Idealnya, dengan kebutuhan menuju transformasi negara industri, Indonesia membutuhkan pembangkit energi baru (EB) yang menghasilkan energi listrik secara masif dan kontinu selama 24 jam, sehingga dapat menggantikan energi fosil. Selain kapasitas produksi dan kualitas, emisi karbon yang sangat kecil serta harga terjangkau harus menjadi sebagai syarat energi transisi. Paduan energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan merupakan andalan untuk mengurangi laju pemanasan global. Tanpa melihat kekurangan satu sama lain, EBT harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia. Energi di Indonesia harus bersifat ramah lingkungan dalam bentuk bauran energi agar dapat mencapai target COP 21 tahun 2050. Terobosan penyediaan energi yang ramah lingkungan dengan harga yang murah dan terjangkau diperlukan oleh Indonesia. Seandainya semua potensi energi di Indonesia dapat diekstrak menjadi listrik, masih sangat sulit memenuhi target 35 GW yang dicanangkan Presiden Jokowi. Pembangkit panas bumi dan pembangkit air/hidro adalah pembangkit EBT yang dapat menggantikan energi fosil sebagai energi utama berskala besar, bersifat dispatchable atau dapat berfungsi sebagai baseload akan tetapi tidak dapat mendekati beban, karena kedua pembangkit ini umumnya berada di lokasi tertentu yang sering sulit dijangkau. Pembangkit panas bumi/geotermal adalah bersih, tidak menghasilkan polusi tetapi biaya pengadaannya relatif mahal. Energi surya sangat melimpah di Indonesia, energi angin berpotensi di daerah tertentu, tetapi keduanya bersifat intermiten dan bergantung kepada musim dan cuaca. Dengan demikian, perlu dipertimbangkan pembangkit EBT lainnya yang bisa memenuhi transisi energi untuk menggantikan energi fosil tetapi mendukung upaya agar target COP 21 tercapai. Salah satu bentuk EBT yang Baru adalah energi nuklir, yang merupakan huruf "B" dalam EBT. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) diperlukan untuk mengejar ketertinggalan listrik Indonesia dibandingkan negara-negara lain di dunia. Transisi energi dengan energi nuklir merupakan solusi yang dapat diambil pemerintah RI untuk mengatasi ketertinggalan konsumsi listrik per kapita dan sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan agar tetap terjaga kelestariannya. Evaluasi dan revisi terhadap target RUEN diperlukan karena realisasi energi dari sumber EBT masih jauh dari target. Perlunya dilakukan evaluasi terhadap bauran energi agar capaian tersebut tidak makin jauh tertinggal. Energi nuklir yang memenuhi syarat sebagai energi transisi, tidak tercantum pada dokumen RUEN dan sistem perundangan di Indonesia. Peraturan Pemeritah atau Peraturan Presiden yang dapat menjamin legalitas dan membuka investasi terhadap modal swasta membangun PLTN pertama di Indonesia, merupakan salah satu solusi masalah penyediaan energi. Kekhawatiran dan ketakutan pada nuklir dan PLTN, baik yang bersumber dari persepsi masyarakat maupun perhatian pemerintah telah dikaji secara berimbang, logis dan ilmiah. Isu ini sebagian besar berasal dari informasi yang kurang tepat (out of context) sehingga menimbulkan mis-informasi seperti isu kecelakaan, lingkungan hidup, limbah, NIMBY (Not in My Backyard), dan bahaya radiasi. Masyarakat dan media belum membedakan konsep "bahaya" dan "risiko". Faktanya bahwa tidak semua yang berisiko tinggi menjadi berbahaya apabila dikelola dengan aturan dan prosedur, serta pengawasan terus-menerus secara ketat. Isu kecelakaan nuklir diuraikan dengan fakta bahwa hampir 70 tahun PLTN beroperasi di muka bumi, ada 3 (tiga) kecelakaan nuklir yang membekas di ingatan manusia, yaitu Three Mile Island (TMI), Chernobyl, dan Fukushima, dengan jumlah total korban meninggal karena radiasi, tidak lebih dari 100 orang. Analisis perbandingan kematian pada proses produksi listrik dari pembangkit energi nuklir dengan energi lainnya, ternyata kematian pada PLTN sangat rendah. Isu tentang radiasi yang berbahaya dibahas dengan fakta bahwa setiap hari manusia terkena radiasi alam, bahkan dimanfaatkan untuk medis dan industri. Radiasi memang dapat menjadi berbahaya, akan tetapi juga bermanfaat jika digunakan sesuai dengan prosedur dan aturan. Terdapat peraturan tentang proteksi radiasi dan batas ambang dosis yang diperbolehkan untuk masyarakat umum dan pekerja radiasi, sedangkan dosis pasien ditentukan oleh dokter radiologi. Isu limbah nuklir dijelaskan dengan menegaskan bahwa bahan bakar bekas PLTN tidak bisa dikategorikan sebagai waste/limbah, karena masih mengandung unsur-unsur berharga dan bermanfaat. Secara kuantitas, limbah yang dihasilkan oleh PLTN relatif sangat kecil volumenya dibandingkan sumber energi lainnya. Teknologi terbaru pengolahan limbah bahan bakar bekas sedang dikembangkan SYLOS. Teknologi ini menggunakan laser, dikemukakan pertama kali oleh Gerard Mourou, pemenang hadiah Nobel Fisika tahun 2018. Klaim yang dikemukakan SYLOS adalah mampu mengubah isotop radioaktif dengan umur paro ribuan tahun menjadi orde menit, merupakan solusi sangat bermakna bagi limbah nuklir. Pengawasan limbah nasional dilakukan secara ketat oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), di tingkat internasional oleh International Atomic Energy Agency (IAEA). Isu mengenai nuklir adalah sunset teknologi atau teknologi yang usang dan mulai ditinggalkan, adalah tidak benar. Meskipun sempat menurun pembangunannya setelah tragedi Fukushima, faktanya pembangunan PLTN tetap bertambah setelah tahun 2013. Pembangunan PLTN di dunia tumbuh di 2,3% per tahun. Tragedi TMI, Chernobyl, dan Fukushima tidak membuat surut pembangunan PLTN bahkan bauran energi nuklir di negara terkait–Ukraina hampir 53%, demikian juga Jepang terus mengandalkan PLTN. Isu sindrom Not in My Back Yard (NIMBY), yaitu sikap menolak terhadap setiap pembangunan fasilitas baru termasuk pembangunan pembangkit listrik dari tenaga nuklir. Di beberapa negara yang mempunyai PLTN juga selalu mengalami NIMBY. Penolakan ini tidak hanya pada PLTN, tetapi juga pada pembangkit energi fosil, bahkan sindrom NIMBY ditemui juga untuk jenis sumber pembangkit EBT seperti terjadi di Jepang, Jerman, dan Amerika. Di sinilah diperlukan kajian mendalam secara teknis, sosiologi, dan budaya agar PLTN dapat diterima dengan pengetahuan yang benar. Pembelajaran dan sosialisasi kepada masyarakat dan stakeholder sangat menentukan turunnya sindrom NIMBY. Berdasarkan survei yang telah dilakukan BATAN, terkait rencana pembangunan PLTN di Indonesia sejak tahun 2016 terlihat 5 bahwa lebih dari 77% masyarakat Indonesia siap menerima PLTN. Tim dari LPPM UNS telah mengkaji tingkat penerimaan masyarakat terhadap PLTN di dunia adalah 51,5% sampai 63%. Di samping isu-isu di atas, karakter PLTN menyangkut keandalan dan keberlanjutan pasokan listrik dihubungkan dengan karakter PLTN yang tidak menghasilkan GRK. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir tidak hanya menjadi solusi transisi energi, juga solusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Indonesia memerlukan PLTN sebagai penyedia energi, jika mengandalkan batu bara dan minyak maka mungkin kebutuhan listrik dapat terpenuhi tetapi Indonesia tidak dapat merealisasikan Perjanjian Paris COP 21 dan SDGs dari PBB. Kajian ini menyimpulkan bahwa PLTN adalah pembangkit listrik yang ramah lingkungan, andal, dan berkelanjutan. Nuklir sebagai energi baru, perlu dipertimbangkan secara serius oleh pemerintah sebagai pemenuhan janji Indonesia mendapatkan lingkungan bebas emisi karbon. Kajian ini juga menyimpulkan bahwa hampir tidak mungkin tercapainya target COP 21 tanpa nuklir di Indonesia. Nuklir dikatakan energi ramah lingkungan karena nuklir bebas emisi GRK, footprint relatif kecil, tidak mengganggu keseimbangan ekosistem, serta limbahnya terkelola dan terkontrol dengan aturan yang jelas. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir juga bersifat andal karena dapat mencapai kapasitas maksimum, beroperasi 24 jam tanpa sela. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir bersifat berkelanjutan karena potensi bahan bakar masih tersedia, dan bahan bakar bekas berpotensi dapat didaur ulang menjadi bahan bakar baru. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir selain menjadi solusi transisi energi, juga menjadi solusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir generasi IV tipe Small Medium Reactor (SMR) dapat berpotensi menjadi energi transisi di Indonesia. Salah satu reaktor generasi IV dengan bahan bakar cair campuran garam uranium thorium, Molten Salt Reactor (MSR) cocok dibangun di Indonesia. Sumber daya alam uranium dan thorium terdapat di Indonesia, sehingga dalam jangka panjang pengadaan bahan bakar MSR dapat mandiri. Berdasarkan kajian, teknologi MSR lebih aman karena mempunyai keselamatan inheren berdasarkan hukum fisika dan kimia, sehingga tragedi seperti Fukushima maupun Chernobyl tidak akan pernah terjadi. Teknologi MSR didesain dengan tekanan rendah, sekitar 3 bar, dan temperatur operasi sekitar 700°C, sangat kontras dengan pembangkit generasi sebelumnya yang beroperasi pada tekanan sekitar 150 bar dan suhu operasi sekitar 315°C. Molten Salt Reactor telah ditunjuk oleh IAEA sebagai reaktor yang direkomendasi untuk dibangun di dunia. Amerika dan Cina merupakan negara dengan penelitian MSR yang sangat maju. Pada umumnya, pembangunan PLTN di dunia menggunakan dana pemerintah, karena membutuhkan biaya yang besar dan waktu pembangunan yang lama. Akan tetapi, pada beberapa negara maju seperti Jepang, peran Independent Power Producer (IPP) sangat dominan. Desain dasar dari Thorium Molten Salt Reaktor (TMSR) yang dirilis oleh ThorCon Power dinamakan TMSR-500 diprediksi memerlukan biaya investasi sebesar Rp17 triliun dengan target harga listrik di bawah 0,069 US$ per kWh atau di bawah BPP Nasional. Optimasi peran IPP memungkinkan terbangunnya PLTN pertama di Indonesia tanpa mengganggu APBN. Pembahasan tentang PLTN selama 4 dekade semestinya segera direalisasi karena PLTN memang sangat diperlukan untuk mendukung energi nasional. : Ringkasan Eksekutif "Kajian Akademik Nuklir Sebagai Solusi dari Energi Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan untuk Mengejar Indonesia Sejahtera dan Rendah Karbon pada Tahun 2050″

You might be interested:  Posisi Bumi Dalam Tata Surya Menduduki Urutan Yang Ke?

Bagaimana proses terjadinya nuklir?

Fisi Nuklir Secara umum, energi nuklir dapat dihasilkan melalui dua macam mekanisme, yaitu pembelahan inti atau reaksi fisi dan penggabungan beberapa inti melalui reaksi fusi. Di sini akan dibahas salah satu mekanisme produksi energi nuklir, yaitu reaksi fisi nuklir.

Sebuah inti berat yang ditumbuk oleh partikel (misalnya neutron) dapat membelah menjadi dua inti yang lebih ringan dan beberapa partikel lain. Mekanisme semacam ini disebut pembelahan inti atau fisi nuklir. Contoh reaksi fisi adalah uranium yang ditumbuk (atau menyerap) neutron lambat. Reaksi fisi uranium seperti di atas menghasilkan neutron selain dua buah inti atom yang lebih ringan.

Neutron ini dapat menumbuk (diserap) kembali oleh inti uranium untuk membentuk reaksi fisi berikutnya. Mekanisme ini terus terjadi dalam waktu yang sangat cepat membentuk reaksi berantai tak terkendali. Akibatnya, terjadi pelepasan energi yang besar dalam waktu singkat.

Mekanisme ini yang terjadi di dalam bom nuklir yang menghasilkan ledakan yang dahsyat. Jadi, reaksi fisi dapat membentuk reaksi berantai tak terkendali yang memiliki potensi daya ledak yang dahsyat dan dapat dibuat dalam bentuk bom nuklir. Dibandingkan dibentuk dalam bentuk bom nuklir, pelepasan energi yang dihasilkan melalui reaksi fisi dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih berguna.

Untuk itu, reaksi berantai yang terjadi dalam reaksi fisi harus dibuat lebih terkendali. Usaha ini bisa dilakukan di dalam sebuah reaktor nuklir. Reaksi berantai terkendali dapat diusahakan berlangsung di dalam reaktor yang terjamin keamanannya dan energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih berguna, misalnya untuk penelitian dan untuk membangkitkan listrik.

Reaktor Nuklir Energi yang dihasilkan dalam reaksi fisi nuklir dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna. Untuk itu, reaksi fisi harus berlangsung secara terkendali di dalam sebuah reaktor nuklir. Sebuah reaktor nuklir paling tidak memiliki empat komponen dasar, yaitu elemen bahan bakar, moderator neutron, batang kendali, dan perisai beton.

Elemen bahan bakar menyediakan sumber inti atom yang akan mengalami fusi nuklir. Bahan yang biasa digunakan sebagai bahan bakar adalah uranium U. elemen bahan bakar dapat berbentuk batang yang ditempatkan di dalam teras reaktor. Neutron-neutron yang dihasilkan dalam fisi uranium berada dalam kelajuan yang cukup tinggi.

Adapun, neutron yang memungkinkan terjadinya fisi nuklir adalah neutron lambat sehingga diperlukan material yang dapat memperlambat kelajuan neutron ini. Fungsi ini dijalankan oleh moderator neutron yang umumnya berupa air. Jadi, di dalam teras reaktor terdapat air sebagai moderator yang berfungsi memperlambat kelajuan neutron karena neutron akan kehilangan sebagian energinya saat bertumbukan dengan molekul-molekul air.

Fungsi pengendalian jumlah neutron yang dapat menghasilkan fisi nuklir dalam reaksi berantai dilakukan oleh batang-batang kendali. Agar reaksi berantai yang terjadi terkendali dimana hanya satu neutron saja yang diserap untuk memicu fisi nuklir berikutnya, digunakan bahan yang dapat menyerap neutron-neutron di dalam teras reaktor.

Bahan seperti boron atau kadmium sering digunakan sebagai batang kendali karena efektif dalam menyerap neutron. Batang kendali didesain sedemikian rupa agar secara otomatis dapat keluar-masuk teras reaktor. Jika jumlah neutron di dalam teras reaktor melebihi jumlah yang diizinkan (kondisi kritis), maka batang kendali dimasukkan ke dalam teras reaktor untuk menyerap sebagian neutron agar tercapai kondisi kritis.

Batang kendali akan dikeluarkan dari teras reaktor jika jumlah neutron di bawah kondisi kritis (kekurangan neutron), untuk mengembalikan kondisi ke kondisi kritis yang diizinkan. Radiasi yang dihasilkan dalam proses pembelahan inti atom atau fisi nuklir dapat membahayakan lingkungan di sekitar reaktor.

Diperlukan sebuah pelindung di sekeliling reaktor nuklir agar radiasi dari zat radioaktif di dalam reaktor tidak menyebar ke lingkungan di sekitar reaktor. Fungsi ini dilakukan oleh perisai beton yang dibuat mengelilingi teras reaktor. Beton diketahui sangat efektif menyerap sinar hasil radiasi zat radioaktif sehingga digunakan sebagai bahan perisai.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Energi yang dihasilkan dari reaksi fisi nuklir terkendali di dalam reaktor nuklir dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Instalasi pembangkitan energi listrik semacam ini dikenal sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Salah satu bentuk reaktor nuklir adalah reaktor air bertekanan ( pressurized water reactor/ PWR) yang skemanya ditunjukkan dalam gambar. Energi yang dihasilkan di dalam reaktor nuklir berupa kalor atau panas yang dihasilkan oleh batang-batang bahan bakar. Kalor atau panas dialirkan keluar dari teras reaktor bersama air menuju alat penukar panas (heat exchanger).

Di sini uap panas dipisahkan dari air dan dialirkan menuju turbin untuk menggerakkan turbin menghasilkan listrik, sedangkan air didinginkan dan dipompa kembali menuju reaktor. Uap air dingin yang mengalir keluar setelah melewati turbin dipompa kembali ke dalam reaktor.

Bagaimana cara mendapatkan bahan bakar nuklir?

Bagaimanakah cara memperoleh bahan bakar nuklir​ Uranium yang digunakan sebagai bahan bakar nuklir di PLTN didapatkan dari pemurnian bijih uranium, pengayaan U-235, dan fabrikasi untuk menghasilkan elemen bakar nuklir. Reaksi pembelahan dalam reaktor akan menimbulkan material bahan bakar baru (plutonium) dan pada saat yang sama mengeluarkan energi. MAAF KALO SALAH Jawaban: Uranium yang digunakan sebagai bahan bakar nuklir di PLTN didapatkan dari pemurnian bijih uranium, pengayaan U-235, dan fabrikasi untuk menghasilkan elemen bakar nuklir. Reaksi pembelahan dalam reaktor akan menimbulkan material bahan bakar baru (plutonium) dan pada saat yang sama mengeluarkan energi. : Bagaimanakah cara memperoleh bahan bakar nuklir​

Uranium seperti apa?

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Uranium, 92 U

Garis spektrum uranium
Sifat umum
Nama, lambang uranium, U
Pengucapan /uranium/
Penampilan metalik abu-abu keperakan; teroksidasi menjadi hitam ketika terpapar dengan udara
Uranium dalam tabel periodik

/td>

Nd ↑ U ↓ (Uqh)
protaktinium ← uranium → neptunium

/td> Nomor atom ( Z ) 92 Golongan golongan n/a Periode periode 7 Blok blok-f Kategori unsur aktinida Berat atom standar ( A r )

238,02891 ± 0,00003 238,03 ± 0,01 (diringkas)

Konfigurasi elektron 5f 3 6d 1 7s 2 Elektron per kelopak 2, 8, 18, 32, 21, 9, 2 Sifat fisik Fase pada STS (0 °C dan 101,325 kPa ) padat Titik lebur 1405,3 K ​(1132,2 °C, ​2070 °F) Titik didih 4404 K ​(4131 °C, ​7468 °F) Kepadatan mendekati s.k. 19,1 g/cm 3 saat cair, pada t.l. 17,3 g/cm 3 Kalor peleburan 9,14 kJ/mol Kalor penguapan 417,1 kJ/mol Kapasitas kalor molar 27,665 J/(mol·K) Tekanan uap

P (Pa) 1 10 100 1 k 10 k 100 k
pada T (K) 2325 2564 2859 3234 3727 4402

/td> Sifat atom Bilangan oksidasi +1, +2, +3, +4, +5, +6 (oksida amfoter ) Elektronegativitas Skala Pauling: 1,38 Energi ionisasi ke-1: 597,6 kJ/mol ke-2: 1420 kJ/mol Jari-jari atom empiris: 156 pm Jari-jari kovalen 196±7 pm Jari-jari van der Waals 186 pm Lain-lain Kelimpahan alami primordial Struktur kristal ​ ortorombus Kecepatan suara batang ringan 3155 m/s (suhu 20 °C) Ekspansi kalor 13,9 µm/(m·K) (suhu 25 °C) Konduktivitas termal 27,5 W/(m·K) Resistivitas listrik 0,280 µΩ·m (suhu 0 °C) Arah magnet paramagnetik Modulus Young 208 GPa Modulus Shear 111 GPa Modulus Bulk 100 GPa Rasio Poisson 0,23 Skala Vickers 1960–2500 MPa Skala Brinell 2350–3850 MPa Nomor CAS 7440-61-1 Sejarah Penamaan dari planet Uranus, ia sendiri dinamai dari dewa langit Yunani Uranus Penemuan Martin H. Klaproth (1789) Isolasi pertama E. Péligot (1841) Isotop uranium yang utama

Iso­top Kelim­pahan Waktu paruh ( t 1/2 ) Mode peluruhan Pro­duk
232 U sintetis 68,9 thn SF
α 228 Th
233 U renik 1,592 × 10 5 thn SF
α 229 Th
234 U 0,005% 2,455 × 10 5 thn SF
α 230 Th
235 U 0,720% 7,04 × 10 8 thn SF
α 231 Th
236 U renik 2,342 × 10 7 thn SF
α 232 Th
238 U 99,274% 4,468 × 10 9 thn α 234 Th
SF
β − β − 238 Pu

/td>

lihat bicara sunting

| referensi | di Wikidata

Uranium adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang U dan nomor atom 92. Ia merupakan logam Radioaktif bewarna putih keperakan yang termasuk dalam deret aktinida di dalam tabel periodik, Uranium memiliki 92 proton dan 92 elektron, dengan elektron valensi 6.

Inti uranium mengikat sebanyak 141 sampai dengan 146 neutron, sehingganya terdapat 6 isotop uranium. Isotop yang paling umum adalah uranium-238 (146 neutron) dan uranium-235 (143 neutron). Semua isotop uranium tidak stabil dan bersifat radioaktif lemah. Uranium memiliki bobot atom terberat kedua (setelah plutonium ) di antara semua unsur-unsur kimia yang dapat ditemukan secara alami.

Massa jenis uranium kira-kira 70% lebih besar daripada timbal, namun tidaklah sepadat emas ataupun tungsten, Uranium dapat ditemukan secara alami dalam konsentrasi rendah (beberapa bagian per juta (ppm)) dalam tanah, bebatuan, dan air. Uranium yang dapat dijumpai secara alami adalah uranium-238 (99,2739–99,2752%), uranium-235 (0,7198–0,7202%), dan sekelumit uranium-234 (0,0050–0,0059%). Uranium-235 merupakan satu-satunya isotop unsur kimia alami yang bersifat fisil (yakni dapat mempertahankan reaksi berantai pada fisi nuklir), sedangkan uranium-238 dapat dijadikan fisil menggunakan neutron cepat. Selain itu, uranium-238 juga dapat ditransmutasikan menjadi plutonium-239 yang bersifat fisil dalam reaktor nuklir,

Apa yang dimaksud dengan plutonium dan uranium?

JAKARTA, iNews.id – Uranium atau plutonium, manakah yang lebih mengerikan? Ini penjelasannya. Uranium dan Plutonium merupakan unsur radioaktif dalam rangkaian aktinida. Meski kerap digunakan untuk tujuan yang sama, namun kedua elemen ini sejumlah sifat yang berbeda. Lantas, mana yang lebih mengerikan, uranium atau plutonium? Berikut ulasannya.